Senin, 23 Februari 2009

Kipas Angin Hindari Kematian Bayi Secara Tiba-Tiba

Kipas Angin Hindari Kematian Bayi Secara Tiba-Tiba

Kipas angin seringkali dihindari oleh ibu yang memiliki bayi. Namun, sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan Senin (6/10) mengungkap, penggunaan kipas angin ketika bayi saat tidur dapat mengurangi kematian bayi secara tiba-tiba atau sudden infant death syndrom (SIDS).

Studi yang dilakukan oleh para peneliti di lembaga medis AS, Kaiser Permanente, adalah yang pertama yang memusatkan perhatian hubungan antara saluran udara ruangan dan SIDS.

Studi tersebut menyimpulkan,ketika bayi terlelap di satu ruangan yang pertukaran udaranya dilakukan oleh kipas angin, dapat menurunkan risiko hingga 72% terhadap SIDS dibandingkan dengan yang dihadapi bayi yang tidur di satu ruangan tanpa kipas angin.

Tidur di ruangan dengan jendela terbuka juga berhubungan dengan rendahnya resiko sindrom tersebut. Laporan itu disiarkan dalam edisi paling akhir "Archives of Pediatric & Adolescent Medicine".

"SIDS sangat merusak dan misterius," kata pemimpin peneliti itu dan ahli reproduksi dan epidemiologi pra-kelahiran di divisi penelitian Kaiser Permanente di Oaklanda, Northern California, Dr. De-Kun Li.

Li mengatakan, pihaknya tak melihat kecondongan dalam temuan mereka bagi penggunaan kipas angin.

"Tetapi ada masalah keselamatan umum. Jika Anda mempunyai bayi, pastikan bahwa mereka tak memasukkan jari mereka ke dalam kipas angin," tuturnya.

Sindrom kematian bayi secara tiba-tiba ditandai dengan kematian bayi secara mendadak yang seringkali tak dapat dijelaskan. Meskipun itu dapat terjadi pada anak-anak hingga ulang-tahun pertama mereka, lebih khusus itu terjadi pada bayi yang dalam usia enam bulan pertama mereka. Berdasarkan data American SIDS Institute, sebanyak 2.500 SIDS terjadi setiap tahun di Amerika Serikat.

Dengan meningkatkan saluran udara di satu ruangan, kipas angin dapat membuyarkan karbon dioksida yang bertumpuk di ruang udara tertutup di sekitar hidung dan mulut bayi di lingkungan tempat mereka tidur. Menurut para ahli, kondisi tersebut meningkatkan risiko saat pengambilan-nafas kembali.

Studi tersebut dipusatkan pada 497 bayi di 11 wilayah di seluruh California, 185 di antara bayi itu meninggal akibat SIDS. (ant/xinhua/ri)

Cokelat Perbaiki Kerja Pembuluh Darah Diabetesi

Cokelat Perbaiki Kerja Pembuluh Darah Diabetesi

Ada kabar baik untuk para penyandang diabetes mellitus atau diabetesi. Riset yang dilakukan para ahli di Jerman menyimpulkan, secangkir minuman cokelat diyakini mampu memperbaiki kerja pembuluh darah pada diabetesi.

Dalam riset itu, para ahli memberikan tiga cangkir minuman cokelat yang telah diformulasi secara khusus setiap hari selama sebulan kepada diabetesi. Hasilnya, pembuluh darah mereka yang semula rusak berat, berfungsi normal kembali.

Diduga, hal itu terjadi berkat flavanol, salah satu zat aktif yang terkandung pada cokelat. Selain cokelat, zat antioksidan tersebut juga terdapat pada beberapa jenis sayuran, buah-buahan, teh hijau, dan lain-lain. Beberapa studi lainnya juga telah mengungkap manfaat flavanol untuk kesehatan.

Dalam studi itu, para peneliti dari University Hospital Aachen, Jerman, menggunakan cokelat yang telah diperkaya dengan flavanol. Dr Malte Kelm, yang memimpin riset mengatakan, flavanol bekerja dengan meningkatkan produksi nitric oxide, zat kimiawi di dalam tubuh yang akan membantu melenturkan dan melebarkan pembuluh darah.

''Pengidap diabetes tipe II tentu boleh-boleh saja mengonsumsi cokelat untuk gaya hidup sehat mereka, tapi studi ini tidak bertujuan mendorong diabetesi untuk mengonsumsi lebih banyak cokelat,'' kata Kelm.

Dia menambahkan, riset tersebut menunjukkan asupan flavanol mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi berupa gangguan kardiovaskuler pada diabetesi. (bbchealth/hid/ri)

Kontrol diabetes dengan berjalan kaki

Kontrol Diabetes dengan 45 Menit Jalan Kaki

Menderita diabetes atau yang biasa disebut penyakit gula memang tidak mudah. Ukuran asupan makanan harus tepat, tidak boleh kurang apalagi lebih. Kini ada cara mudah yang dapat Anda lakukan. Cukup dengan jalan kaki 45 menit per hari.

Nyatanya kegiatan berjalan selama 45 menit per hari dapat membantu penderita diabetes menggunakan kadar gula darah dalam tubuhnya lebih baik. Hal itu diungkapkan oleh Michael Trenell dari Brittain Newcastle University dan tim dalam studi yang dilaporan pada journal Diabetes Care.

"Banyak orang menganggap bahwa latihan ke gym agak menakutkan, tapi kami menemukan bahwa hampir semua orang penderita diabetes dapat lebih aktif melalui kegiatan berjalan," ujar Trenell.

Tim peneliti melakukan studi terhadap 10 pasang orang penderita diabetes tipe 2 yang memiliki kondisi yang sama termasuk tinggi badan, berat badan, usia serta meminta mereka untuk berjalan lebih dari 10.000 langkah per hari.

Hasil pemindaian dari tes magnetic resonance imaging (MRI) menunjukkan, orang yang berjalan lebih dari 45 menit per hari dapat membakar sekitar 20% lemak. Serta, meningkatkan kemampuan dari otot untuk menyimpan gula dalam darah dan mengontrol diabetes.

"Yang menarik dari penelitian itu yaitu dapat mencari cara untuk membantu mengontrol diabetes tanpa obat tambahan," terang Trenell.

Diabetes diperkirakan menjangkiti sekitar 246 juta orang dewasa di seluruh dunia. Diikuti dengan angka kematian per tahun sekitar 6%. Diabetes tipe 2 adalah jenis yang paling banyak yaitu sekitar 90% dari keseluruhan jumlah penderita diabetes. Jenis itu juga paling dekat berkaitan dengan obesitas dan kurangnya aktivitas fisik.

Obesitas dan diabetes adaah dua penyakit yang paling banyak berkembang terutama dari negara-negara berkembang yang mengadopsi gaya hidup negara barat. International Diabetes Federation memperkirakan hal tersebut akan mendorong peningkatan angka penderita diabetes hingga 380juta orang pada tahun 2025.

Menurut John Jakicic dari University of Pittsburgh, panduan terbaru mengenai latihan fisik sekitar 150 menit atau 2,5 jam per minggu, dapat membantu penderita obesitas untuk menurunkan berat badan. Hal itu diungkapkan pada tulisannya yang dimuat Archives of Internal Medicine.

Untuk mencapai jumlah optimal berlatih fisik, pemerintah Amerika Serikat memasukkan sekitar 201 wanita yang kelebihan berat badan serta obesitas dalam program menurunkan berat badan antara tahun 1999-2003. Kemudian membagi mereka menjadi empat grup dengan tugas berbeda.

Setelah enam bulan, semua wanita dalam empat grup berhasil mengurangi berat badan sekitar 8%-10% dari berat sebelumnya. Namun, banyak yang kembali ke berat semula.

Wanita yang menjalankan latihan fisik ekstra satu jam per hari, berhasil mempertahankan berat badan yang turun. Para peneliti juga mengungkap, para wanita itu juga lebih taat mengikuti pola makan sehat.

Jakicic merekomendasikan, orang yang ingin menurunkan berat badan tanpa kembali ke brat semula, harus berlatih fisik minimal 4,5 jam per minggu.

"Ada kesepakatan yang berkembang, latihan fisik yang lebih banyak dibutuhkan untuk mempertahankan penurunan berat badan," terangnya. (Reuters/ri)

Kenali Gangguan Hati Melalui Warna Urin

Kenali Gangguan Hati Melalui Warna UrinTAMPAK SEORANG WANITA TENGAH MENGAMATI HASIL URIN UNTUK MENGETAHUI ADANYA GANGGUAN PADA HATI

Salah satu organ vital dalam tubuh manusia adalah hati (liver). Dalam organ itu, terjadi proses-proses penting, yaitu proses penyimpanan energi, pembentukan protein dan asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan racun/obat yang masuk dalam tubuh.

Jika terdapat kerusakan pada hati, otomatis akan mengganggu fungsi tubuh seseorang. Salah satu kerusakan pada hati yang dikenal adalah kolestasis.

Kolestasis terjadi akibat kegagalan hati memproduksi dan pengeluaran empedu. Seseorang yang menderita kolestasis mengalami kesulitan dalam penyerapan lemak dan vitamin A, D, E, K oleh usus. Selain itu kolestasis juga menyebakan adanya penumpukan asam empedu, bilirubin dan kolesterol di hati.

Gangguan aliran empedu bisa terjadi di sepanjang jalur antara sel-sel hati dan usus dua belas jari. Meskipun empedu tidak mengalir, tetapi hati terus mengeluarkan bilirubin, yaitu komponen empedu yang berwarna jingga. Bilirubin kemudian diendapkan di kulit dan dibuang ke air kemih, kejadian it menyebabkan sakit kuning (jaundice).

Untuk tujuan diagnosis dan pengobatan, penyebab kolestasis dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, gangguan yang berasal dari hati, seperti hepatitis, penyakit hati alkoholik, akibat obat-obatan dan perubahan hormon selama kehamilan.

Kemudian, gangguan berasal dari luar hati, seperti batu di saluran empedu, penyempitan saluran empedu, kanker saluran empedu, kanker pankreas dan peradangan penkreas.

Gejala gangguan hati dapat dilihat dari bilirubin yang berlebihan di dalam kulit dan air kemih yang menyebabkan warna air kemih lebih gelap. Selain itu, perubahan dapat dilihat dari warna tinja.

Akibat adanya ganguan aliran empedu sehingga bilirubin tidak mengalir ke usus dan menyebabkan tinja tampak pucat. Tinja juga bisa mengandung banyak terlalu banyak lemak, karena di dalam usus tidak terdapat empedu untuk membantu proses pencernaan lemak dalam makanan.

Berkurangnya empedu dalam usus, juga menyebabkan berkurangnya penyerapan kalsium dan vitamin D. Jika kolestasis menetap, kekurangan kalsium dan vitamin D akan menyebabkan pengeroposan tulang sehingga penderita kolestasis merasakan nyeri di tulang hingga bisa menyebabkan patah tulang.

Selain itu, terjadi juga gangguan penyerapan bahan-bahan yang diperlukan untuk pembekuan darah, sehingga penderita cenderung mudah mengalami pendarahan.

Gejala lainnya tergantung dari penyebab kolestasis, bisa berupa sakit perut, hilangnya nafsu makan, muntah atau demam.

Penggobatan paling rasional untuk kolestasis adalah perbaikan aliran empedu ke dalam usus. perbaikan aliran empedu secara medis dapat dengan pemberian pemberian fenobarbital dan kolestiramin, ursodioxy cholic acid (UDCA).

Penyumbatan di luar hati biasanya dapat diobati dengan pembedahan. Sementara itu, jika penyumbatan terjadi di dalam hati bisa diobati dengan berbagai cara, tergantung dari penyebabnya.

Jika penyebabnya adalah obat, maka pemakaian obat dihentikan dan jika penyebabnya adalah hepatitis, Biasanya kolestasis dan sakit kuning akan menghilang sejalan dengan membaiknya penyakit. (pediatrik.com/medicastore.com/cr1/ri)

Perut Langsing, Kanker Pankreas Enggan Mendekat

Perut Langsing, Kanker Pankreas Enggan Mendekat

Para wanita yang kelebihan berat terutama di bagian perut, sebaiknya ekstra waspada. Mungkin Anda bisa segera berdiet dan berolahraga untuk mengecilkannya. Penelitian terbaru menyebutkan, kecenderungan lemak berlebih di bagian tubuh tersebut memperbesar risiko hingga 70% terhadap kanker pankreas.

Studi tersebut juga membuktikan bahwa kaitan antara obesitas dan kanker terjadi sama besarnya pada perempuan dan laki-laki. Hal itu diungkap Juhua Luo dari institut Karolinska Swedia pada Jurnal Kanker Inggris seperti dilansir Kantor Berita Reuters, baru-baru ini.

“Kami menemukan risiko meningkatnya kanker pankreas terjadi pada wanita yang menderita obesitas pada masa pasca-menopouse, yang memiliki kelebihan berat di sekitar perut. Obesitas adalah masalah yang dapat dicegah, untuk itu penting bagi para wanita menyadari hal itu berisiko tinggi," jelasnya.

Kanker pankreas menempati urutan kelima yang penyebab kematian. Setidaknya 2% dari diagnosa kanker setiap tahunnya. Namun, menurut Universitas Johns Hopkins di Baltimore, yang berhasil bertahan hidup pada tahun pertama kurang dari 5%.

Hingga saat ini penyebab kanker pankreas yang terbanyak yang disebabkan oleh asap rokok dan sakit pankreas kronis. Kini semakin banyak bukti yang mengungkap bahwa risiko kanker tersebut meningkat karena faktor obesitas pada wanita dan pria.

Penelitian terbaru itu merupakan bagian dari Women's Health Initiative, yang melibatkan lebih dari 138.000 wanita yang sudah memasuki menopause di Amerika Serikat selama lebih dari tujuh tahun. Tim peneliti fokus mempelajari hubungan antara obesitas dan kanker pankreas.

Mereka menemukan 251 wanita benar-benar terkena kanker pankreas, sekitar 78 orang dari mereka memiliki pinggul besar. Setelah menyisihkan faktor lain, maka sekitar 70% dari wanita tersebut sekitar 34 orang tercatat memiliki kelebihan lemak di bagian perut terbanyak benar-benar terjangkit. Penemuan juga menunjukan bahwa kelebihan berat di sekitar perut lebih mudah diprediksi penyakit daripada indeks massa badan, ukuran obesitas.

Tim peneliti juga mengatakan, obesitas lebih berisiko terkena kanker pankreas dengan beberapa faktor lainnya seperti pemakaian insulin tingkat tertentu. Terutama, obesitas juga memperbesar kemungkinan untuk terkena penyakit diabetes. “Seperti yang kita ketahui,lemak yang berlebih pada bagian perut berhubungan dengan meningkatnya level insulin, bisa jadi hal itu menjadi penyebab antara obesitas dan kanker pankreas” terang Luo.

Beberapa penilitian sebelumnya menunjukan, obesitas meningkatkan resiko beberapa tipe kanker termasuk payudara dan usus juga serangan jantung dan kondisi lain.(cr1/rin)

Batasi Es Teh, Hindari Batu Ginjal

Batasi Es Teh, Hindari Batu Ginjal

Minuman teh dicampur dengan es sebagai pelepas dahaga di siang hari yang terik tentunya sangat menyenangkan. Namun, bagi Anda yang memiliki kecenderungan mengalami pembentukan batu ginjal sebagiknya berhati-hati. Penelitian terbaru menyarankan, sebaiknya beralih dari es teh ke air putih dengan lemon atau jus lemon.

Menurut para ahli, batu yang terbentuk dari kristal di dalam ginjal atau saluran air seni dari ginjal ke kandung kemih mempengaruhi sekitar 10% populasi Amerika Serikat. Pria tercatat memiliki risiko empat kali lebih besar dibandingkan wanita. Risiko pembentukan batu ginjal tesebut biasanya akan meningkat setelah usia 40 tahun.


Kandungan zat oxalate sebagai salah satu kunci pembentukan batu ginjal, terdapat didalam es teh dalam tingkat konsentrasi tinggi.

"Untuk banyak orang, es teh adalah salah satu minuman yang paling buruk. Terutama bagi orang yang memiliki risiko pembentukan batu ginjal, minuman itu sangat berisiko," ujar Instruktur department of urology di Loyola University Chicago Stritch School of Medicine, John Milner.

Kegagalan untuk menjaga kecukupan cairan dalam tubuh adalah penyebab utama pembentukan gagal ginjal. Tingginya suhu udara dan tingkat kelembaban, sering menyebabkan keringat berlebih dan dehidrasi, didukung oleh tingginya konsumsi es teh, dapat meningkatkan risiko gagal ginjal saat ini.

Tea Association dari Amerika Serikat melaporkan, warganya mengonsumsi sekitar 1,91 miliar galon es teh per tahun. Hal tersebut dilatari dengan keyakinan bahwa minuman tersebut lebih sehat dibandingkan minuman lain seperti soda dan bir.

Milner mengatakan, minum air putih adalah cara terbaik untuk menjaga cairan dalam tubuh. Jika seseorang cenderung terkena batu ginjal, pilihan terbaik adalah minum air putih dengan lemon atau jus lemon.

"Lemon memiliki kandungan sitrat yang tinggi, sehingga dapat mencegah pembentukan batu ginjal. Jus lemon yang tidak dicampur dengan bahan-bahan perasa lainnya, dapat membantu pembentukan batu ginjal terutama bagi orang-orang yang berisiko tinggi," jelas Milner.

Makanan lainnya yang memiliki tingkat oxalate tinggi yang perlu dihindari oleh orang yang memiliki kecenderungan batu ginjal antara lain, bayam, coklat dan kacang.

Selain itu, perlu juga mengurngi konsumsi garam, dan minum air putih yang cukup setiap hari. Serta, makanan dengan kandungan kalsium tinggi yang dapat menetralkan penyerapan tubuh terhadap oxalate. (healtdaynews.com/ri)

Kamis, 12 Februari 2009

Penting, Kontrol Tekanan Darah Ibu Hamil

Penting, Kontrol Tekanan Darah Ibu Hamil

TERATUR: Kontrol tekanan darah bagi wanita hamil terutama dengan riwayat penyakit diabetes dan ginjal sangat penting untuk menghindari komplikasi dan bayi berat lahir rendah.

Kontrol yang intensif terhadap tekanan darah tinggi (hipertensi) dapat meningkatkan kesehatan wanita hamil yang memiliki penyakit diabetes tipe 1 dan ginjal. Demikian diungkap peneliti Denmark dalam journal Diabetes Care.

"Wanita dengan diabetes dan mengalami gangguan ginjal berisiko tinggi terhadap komplikasi selama kehamilan yang dapat memicu persalinan prematur," terang pemimpin studi Dr. Lene Ringholm Nielsen.

Penelitian itu menggambarkan penanganan tekanan darah tinggi yang intensif pada wanita yang memiliki tekanan darah tinggi bisa menekan risiko komplikasi saat kehamilan.

Nielsen dan tim di Rigshospitalet, Copenhagen melakukan penelitian terhadap 117 wanita hamil dengan diabetes. Terapi antihipertensi kemudian digunakan untuk menjaga tekanan darah dibawah 135/85 mm Hg dan tingkat normal albumin dalam urin yaitu dibawah 300 mg per 24 jam.

Pengobatan itu dilakukan terhadap 14 dari 100 wanita dengan tingkat albumin normal dalam urin, sekitar 5-10 wanita dengan peningkatan albumin serta 7 wanita dengan diabetes terkait penyakit ginjal.

Rata-rata tekanan darah sistolik untuk tiga kelompok yaitu 120, 122 dan 135 mm Gh. Tidak ada perbedaan tekanan diastolik atau tingkat hemoglobin A1C yaitu tes yang mengindikasikan tekanan gula darah.

Ada tiga kasus preeklampsia, semua termasuk dalam kelompok wanita dengan penyakit diabetes dan ginjal. Preeklampia adalah kondisi berbahaya potensial dari kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, protein dalam urin dan kandungan air berlebih dalam tubuh.

Kejadian persalinan prematur sekitar 20% pada wanita dengan tingkat albumin normal dan agak tinggi serta 71 persen dari wanita dengan penyakit diabetes dan ginjal.

Berat badan bayi yang lahir hampir sama pada tingkat albumin normal atau sedikit lebih tinggi yaitu 3540 gram dan 3430 gram, namun lebih rendah diantara wanita dengan penyakit diabetes dan ginjal yaitu 2765 gram.

Nielsen menyimpulkan, kontrol terhadap kondisi tekanan darah tinggi padaa wanita dengan diabetes dapat meningkatkan kemungkinan kelahiran bayi dengan waktu yang cukup.

Rokok Picu Gangguan Tiroid Ibu Hamil & Janin

<!--
SHARE
RSS
-->
Rokok Picu Gangguan Tiroid Ibu Hamil & Janin

HINDARI: Ibu hamil sebaiknya menghentikan kebiasaan merokok dan menghindari paparan asap rokok, untuk mencegah dampak buruk terhadap kesehatan janin.

Satu lagi alasan ibu hamil untuk menghentikan kebiasaan merokok. Para peneliti di Inggris membuktikan hal itu dapat mengganggu fungsi hormon tiroid pada ibu dan janin, Selasa (14/1).

Asap rokok telah terbukti menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak atau sudden infant death syndrome, serta mengakibatkan bibir sumbing, kelainan jantung dan gangguan lainnya.

Bijay Vaidya dan tim peneliti dari Royal Devon And Exeter Hospital menemukan, merokok juga dapat berdampak pada tiroid ibu dan bayi.

"Kami mempelajari pengaruh dari asap rokok dapat mempengaruhi fungsi tiroid pada dua kelompok wanita dengan usia kehamilan yang berbeda. Pertama, kelompok kehamilan trisemester pertama dan kelompok usia kehamilan trisemseter akhir," ujar Vaidya.

Pada kedua kelompok, peneliti menemukan, merokok selama hamil terkait erat dengan perubahan tingkat hormon tiroid ibu.

Fungsi tiroid yang baik merupakan kunci untuk mempertahankan kehamilan, sebagian wanita mengalami ketidakseimbangan tiroid terutama saaat hamil.

Hal itu mempengaruhi metabolisme dan meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, bayi berat badan rendah dan gangguan perkembangan otak.

Penelitian yang dipublikasikan pada Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, Vaidya dan tim peneliti mengatakan, pihaknya mengukur tingkat hormon tiroid pada tali pusat bayi dan menemukan kebiasaan merokok berkaitan dengan perubahan fungsi tiroid juga terjadi pada bayi.

Namun jika dibandingkan antara wanita yang berhenti merokok selama hamil dan yang tidak merokok, perubahan tingkat tiroid itu bisa teratasi dengan cepat.

Apel Selama Kehamilan, Lindungi Bayi dari Asma

Apel Selama Kehamilan, Lindungi Bayi dari Asma PERLINDUNGAN: Kandungan flavonoid dan anti oksidan lainnya dalam apel yang dikonsumsi ibu hamil, diduga dapat melindungi janin dari asma.

Jika perempuan memakan apel selama hamil, bayi mereka mungkin memiliki resiko yang lebih rendah untuk terserang asma, demikian hasil satu studi baru.

Studi tersebut, yang diselenggarakan oleh para peneliti Belanda, dilandasi atas analisis terhadap 1.253 anak dari sebelum mereka lahir hingga mereka berusia 5 tahun.

Dalam studi itu, ibu anak-anak tersebut menyelesaikan daftar pertanyaan mengenai makanan selama mereka hamil, dan kesehatan anak mereka dinilai dengan daftar pertanyaan mengenai gejala penyakit. Makanan anak-anak itu juga dinilai.

Temuan tersebut memperlihatkan perempuan yang mengkonsumsi paling banyak apel selama kehamilan yaitu lebih dari empat butir per minggu, maka anak yang dilahirkan memiliki kemungkinan 37 persen lebih rendah untuk mengalami sesak nafas dibandingkan dengan anak dari ibu yang paling sedikit mengkonsumsi apel selama mereka hamil.

Studi itu disiarkan di dalam jurnal Thorax, terbitan Januari.

"Mekanisme di balik kemungkinan dampak perlindungan apel mungkin memiliki kaitan dengan "flavonoid" dan zat anti-oksidan lain yang terkandung di dalam apel," kata Dr. Devang Doshi, Direktur Bagian imunologi dan Alergi Pediatrik di Beaumont Hospital di Royal Oak, Michigan, yang tak ikut dalam studi tersebut.

Lebih dari 20 juta orang Amerika memiliki asma dan sebanyak 6,2 juta di antara mereka adalah anak kecil, demikian data dari U.S. Centers for Disease Control and Prevention.

Vitamin E Berlebih Picu Gangguan Hati Bayi

Vitamin E Berlebih Picu Gangguan Hati BayiBERLEBIH: Makanan alami yang sehat kandung cukup vitamin, hindari tambahan suplemen vitamin E saat hamil untuk mencegah gangguan hati sang bayi

Wanita hamil, atau bahkan yang baru hamil sebaiknya memeriksa dosis asupan vitamin E dalam tubuh mereka. Pasalnya asupan vitamin E yang terlalu tinggi pada awal kehamilan dapat menyebabkan resiko bayi lahir dengan gangguan hati, demikian yang disampaikan tim peneliti asal Belanda.

Salam sebuat studi, tim para pakar tersebut meneliti 276 ibu yang memiliki anak dengan kelainan hati, dan 324 ibu yang terkontrol dan memiliki bayi bebas dari masalah hati.

Ketika usia kandungan menginjak bulan ke 16, para ibu mengisi angkat mengenai frekuensi asupan makanan selama 4 minggu untuk keperluan penelitian. Menurut para peneliti, pola diet selama 4 minggu tersebut sama dengan pola diet saat mereka sebelum hamil.

Hasil penelitian menunjukkan, mereka yang mengkonsumsi vitamin E dosis tinggi beresiko hingga 70 persen memiliki bayi dengan kelainan hati, dibandingkan yang mengkonsumsi vitamin E lebih rendah.

Sementara, pola diet dengan asupan vitamin E tinggi disertai dengan suplemen yang mengandung vitamin E meningkatkan resiko kelainan hati sejak lahir sebesar 5 hingga 9 kali lipat, demikian menurut laporan Dr. R. P. M. Steegers dari University Medical Center,Theunissen, Rotterdam, dan rekannya seperti yang ditulis dalam Jurnal Internasional Obstetri dan Ginekologi.

Peneliti menyimpulkan bahwa tingginya asupan vitamin E "memungkinkan adanya ketidakseimbangangan antara oksidan dan antioksidan" di dalam lapisan embrio.

Kemungkinan mekanisme lain yang diperburuk efek vitamin E dosis tinggi pada bayi, menurut peneliti, adalah termasuk perkembangan perubahan pada hati embrio, dan gangguan sel enzim pembersih racun secara alami