Senin, 09 Maret 2009

Vitamin E Berlebih Picu Gangguan Hati Bayi

Vitamin E Berlebih Picu Gangguan Hati Bayi


Wanita hamil, atau bahkan yang baru hamil sebaiknya memeriksa dosis asupan vitamin E dalam tubuh mereka. Pasalnya asupan vitamin E yang terlalu tinggi pada awal kehamilan dapat menyebabkan resiko bayi lahir dengan gangguan hati, demikian yang disampaikan tim peneliti asal Belanda.

Salam sebuat studi, tim para pakar tersebut meneliti 276 ibu yang memiliki anak dengan kelainan hati, dan 324 ibu yang terkontrol dan memiliki bayi bebas dari masalah hati.

Ketika usia kandungan menginjak bulan ke 16, para ibu mengisi angkat mengenai frekuensi asupan makanan selama 4 minggu untuk keperluan penelitian. Menurut para peneliti, pola diet selama 4 minggu tersebut sama dengan pola diet saat mereka sebelum hamil.

Hasil penelitian menunjukkan, mereka yang mengkonsumsi vitamin E dosis tinggi beresiko hingga 70 persen memiliki bayi dengan kelainan hati, dibandingkan yang mengkonsumsi vitamin E lebih rendah.

Sementara, pola diet dengan asupan vitamin E tinggi disertai dengan suplemen yang mengandung vitamin E meningkatkan resiko kelainan hati sejak lahir sebesar 5 hingga 9 kali lipat, demikian menurut laporan Dr. R. P. M. Steegers dari  University Medical Center,Theunissen, Rotterdam, dan rekannya seperti yang ditulis dalam Jurnal Internasional Obstetri dan Ginekologi.

Peneliti menyimpulkan bahwa tingginya asupan vitamin E "memungkinkan adanya ketidakseimbangangan antara oksidan dan antioksidan" di dalam lapisan embrio.

Kemungkinan mekanisme lain yang diperburuk efek vitamin E dosis tinggi pada bayi, menurut peneliti, adalah termasuk perkembangan perubahan pada hati embrio, dan gangguan sel enzim pembersih racun secara alami

Bahaya Kerja Larut dan Shift Malam Bagi Tubuh

Bahaya Kerja Larut dan Shift Malam Bagi Tubuh

Bagi anda yang bekerja lebih dari 40 jam perhari, hingga larut malam, atau pekerja shift malam sebaiknya lebih waspada. Orang-orang yang bekerja keras di atas standar 40 jam perminggu memiliki tingkat kemungkinan penurunan mental lebih tinggi di usia paruh baya, demikian menurut hasil studi terbaru. Sementara para pekerja giliran malam memiliki resiko lebih besar dalam kecelakaan, gangguan tidur, hingga masalah pencernaan.

Peneliti menemukan di antara lebih dari 2.200 pekerja pemerintahan di Inggris, bekerja dalam waktu lama memiliki kaitan performa buruk pada tes fungsi kognisi, termasuk penurunan mental bertahap secara akut sejalan waktu.

Riset yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, 1 Maret 2009 itu membandingkan para subjek dengan waktu kerja 55 jam lebih perminggu dengan kelompok pria dan wanita yang bekerja dalam rentang 35 -40 jam perminggu. Ternyata kelompok yang lebih dari 40 jam perminggu menunjukkan penurunan kemampuan beralasan terstruktur, dalam lima tahun sesudahnya.

Namun Marianna Virtanen, pemimpin penelitian sekaligus doktor dari Finnish Institute of Occupational Health di Helsinki masih menyatakan kemungkinan ada faktor tak terukur lain yang mengaitkan antara bekerja dalam waktu lama dengan fungsi kognisi lemah.

Bahkan jika ada "efek nyata", menurut Mariannne, penurunan terhubung dengan bekerja dalam waktu lama tidak terlampau kuat.

Penemuan itu sendiri merupakan hasil penelitian yang dilakukan lima tahun kepada 2.214 subjek kelas pekerja berusia menengah. Pada awal dan akhir periode riset, para subjek karyawan diminta melengkapi lima tes  standar fungsi kognitif.

Secara umum, pekerja menghabiskan waktu 55 jam-hingga-lebih perminggu mendapat skor lebih rendah dalam satu tes yaitu tes kosakata, baik dalam awal maupun akhir riset. Mereka juga menunjukkan tanda-tanda penurunan dalam tes aliran kecerdasan, yang berhubungan dengan kemampuan seseorang berargumen terstruktur dan memecahkan masalah.

Mereka yang bekerja berjam-jam lamanya juga cenderung memiliki tingkat stress tinggi, gangguan tidur, dan minum alkohol lebih banyak ketimbang rekan mereka yang bekerja dalam waktu standar. 

Sementara bagi para pekerja giliran malam, masalah timbul pada kebiasaan tubuh. Memang, pekerja malam mengakali dengan tidur di pagi hingga siang hari untuk mengganti kebutuhan tidur 8 jam perhari. Masalahnya, tubuh harus dibuat melawan siklus alami yakni bekerja berdasar cahaya terang dan beristirahat saat gelap malam.

Bukti dari para ahli menunjukkan pengalihan jam tubuh alami mempengaruhi ritme jantung, sehingga memicu perubahan hormonal dan metabolisme. Pengalihan itu ternyata meningkatkan resiko obesitas, diabetes, hingga penyakit jantung. Laporan penuh dari riset terpisah atas shift-malam itu telah dipublikasikan dalam antologi kumpulan penelitian National Academy of Sciences.

Peneliti yang melaporkan menekankan 8,6 juta pekerja malam di Amerika Serikat (AS) termasuk pekerja pabrik, rumah sakit, polisi, pemadam kebakaran, pilot, kru jalan raya, media, dan pengemudi truk. Giliran-malam, dalam definisi National Sleep Foundation di AS adalah tipe jadwal yang berada di luar standar jam bisnis normal nine-to-five.

"Dalam jangka lama, efek psikologis giliran malam ditandai beberapa gejala termasuk pada berat badan, gangguan insulin, dan kortisol, terlihat berkontribusi meningkatkan resiko diabetes, penyakit jantung, dan obesitas, " ujar pimpinan riset, Frank Scheer,instruktur obat-obatan di divisi obat tidur, Rumah Sakit Wanita Brigham dan Kedokteran Havard

Dalam tes, para ahli melakukan tes laboratorium menyetimulus efek jet lag (atau efek berkepanjangan pada kerja malam). Partisipan dalam riset tersebut adalah lima pria dan lima wanita yang mengikuti jadwal perubahan tidur dan pola makan hingga delapan hari. Selama periode tersebut, semua partisipan makan dan tidur dalam fase siklus istirahat dan penyerapan yang didesain dengan diikuti jadwal kerja.

Hasilnya, riset mengungkapkan jika interupsi terhadap jadwal tubuh alami menyebabkan penurunan leptin, hormon yang mengatur berat badan. Menurut para ahli, penurunan kadar leptin dapat mengakibatkan peningkatan selera makan dua kali lipat, dengan aktivitas tak terlalu banyak tentu akan mempercepat kegemukan hingga obesitas. Sebagai tambahan, riset juga menunjukkan terjadinya perubahan kadar gula darah dan tingkat insulin yang menghasilkan toleransi melemah terhadap glukosa. Itu artinya mengurangi sensitifitas insulin.

Padahal, fakta dalam riset, para partisipan yang mengikuti penelitian tidak pernah memiliki riwayat diabetes sebelumnya. Namun setelah mengikuti sejumlah tes jadwal kerja malam, tubuh mereka mulai membentuk kadar glukosa mirip seperti pada pasien diabetes juga peningkatan tekanan darah.

Puncak perubahan hormon tersebut ditandai  ketika jadwal partisipan benar-benar berada 12 jam penuh diluar siklus istirahat-aktivitas alami manusia--yakni jadwal dimana tubuh alami seharusnya tidur tapi mereka tetap terjaga sepanjang malam. 

Frank sendiri memang tidak terburu-buru menganggap hasil penelitian adalah mutlak. Ia mengaku masih membutuhkan studi lebih lanjut, terlebih waktu riset pun tidak cukup panjang. "Kami masih belum tahu dampak jangka panjang kerja giliran malam terhadap hidup karyawan kedepan," ujarnya.

"Karena kerja giliran malam seringkali mempengaruhi tingkat kewaspadaan dan fungsi Gastro Intestinalsesorang, dan mereka yang tidak mampu mengatasi kondisi itu dengan baik, bakal mengalami penurunan kondisi tubuh dan mental drastis. Artinya pula, mereka yang bertahan melakukan pekerjaan malam mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh masalah-masalah tersebut dan tak terlalu sensitif dengan perubahan jam tubuh alami. Itulah pertanyaan kedepan nanti,"